FASILITAS TOILET MINIM, TONG SAMPAH PUN DIJADIKAN BAK AIR

Purwokerto (23/11). Seperti yang kita tahu, Universitas Jenderal Soedirman merupakan salah satu universitas yang cukup dikenal di Pulau Jawa. Hal ini ditandai dengan tingginya minat para siswa untuk berkuliah di Unsoed. Sebagai Perguruan Tinggi Negeri, Universitas Jenderal Soedirman ini tengah gencar melakukan pembenahan di segala bidang. Contohnya penambahan fasilitas baru di Fakultas Ekonomi dan Bisnis berupa pembangunan gedung tujuh lantai. Namun melihat perkembangan fasilitas di Universitas Jenderal Soedirman, khususnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, menimbulkan sebuah pertanyaan ‘Apakah semua fasilitas di Fakultas Ekonomi dan Bisnis sudah memadai?’

Beberapa waktu yang lalu seorang mahasiswa menyampaikan keluhan mengenai kondisi toilet di gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis melalui media sosial, di mana ia mendapati tong sampah di toilet tersebut beralih fungsi menjadi bak air. Hal tersebut tentu mengganggu kenyamanan mahasiswa dalam menggunakan toilet. Walaupun gedung tujuh lantai yang akan dipergunakan sebagai Laboratorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis sedang dibangun dengan dana yang cukup besar, seharusnya fasilitas di gedung lain tidak diabaikan. Hak mahasiswa untuk mendapatkan fasilitas yang mumpuni karena sudah membayar biaya kuliah seharusnya diperhatikan oleh universitas.

Toilet merupakan tempat yang lazimnya digunakan  orang untuk membuang hajat, dimana kondisi toilet haruslah bersih. Seperti yang kita ketahui toilet yang kotor identik dengan banyak bakteri dan kuman yang bisa mengganggu kesehatan pemakainya dan menimbulkan berbagai penyakit seperti diare, iritasi kulit dan penyakit lainnya. Fasilitas toilet yang minim seperti tidak adanya gayung, ember, tisu, sabun, tong sampah juga menjadi penyebab mahasiswa tidak memakai toilet kampus. Tidak hanya fasilitas, kebersihan toilet pun kurang diperhatikan—terbukti dari bau tidak sedap yang sering tercium dari toilet, lantai yang kotor, penerangan yang kurang, kurangnya ventilasi udara dan beberapa toilet tidak memiliki kunci.

“Menurut saya itu kurang pantas ya, masa tong sampah dibuat bak air. Jijik ya, kotor,” kata Andriana—mahasiswi D3 Kesekretariatan. Ketidakpuasan juga dirasakan Andriana karena sudah membayar uang kuiah yang cukup besar, namun belum mendapatkan fasilitas yang seharusnya didapatkan. Andriana juga berharap bahwa kedepannya dapat ditindak lanjuti, “harapan saya buat kedepan ya WC nya diubah lah ya jangan kayak gitu, masa malu. Kalau ada yang datang dari universitas lain atau orang lain siapa saja yang datang malu dilihatnya, masa universitas udah masuk negeri namanya udah terkenal terus tiba-tiba masuk kamar mandi terus lihat bak airnya dari tong sampah,” imbuh Andriana.

Menurut World Toilet Organization, disebutkan bahwa toilet yang baik harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan antara lain di dalam toilet harus tersedia tanda toilet, tong sampah freehand, sabun cair, tissue toilet, lady bin khusus untuk perempuan, ventilasi yang baik, pencahayaan yang cukup, gayung, wastafel dengan keran untuk mencuci tagan. Selain itu diperlukan juga air yang bersih, lantai yang tidak kotor dan pengharum ruangan agar tidak menimbulkan bau yang tidak sedap.

Selain toilet di gedung perkuliahan, toilet di sekretariat mahasiswa juga belum memenuhi kondisi standar toilet.

Kondisi toilet yang telah disampaikan oleh Andriana sebelumnya, berbeda dengan kondisi toliet di gedung D lantai satu disebelah ruang jurusan akuntansi dimana keadaan toiletnya bersih, penerangannya cukup, walau demikian tetapi masih belum memenuhi kriteria toilet yang ramah terhadap perempuan. “Toilet di sini tempatnya enak juga sih, kalo wudhu airnya tidak nyiprat, cuma kalo kamar mandinya cowok sama cewek digabung jadinya kadang kalo pas lagi pake kerudung, kelihatan deh rambutnya” tutur Bu Mumun—penjual makanan ringan di Gedung D. Fenomena toilet yang digabung antara perempuan dan laki-laki ini bukan hanya terjadi di toilet Gedung D saja, tetapi di beberapa toilet di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Seperti di Gedung A, antara toilet perempuan dan laki-laki pun digabung di dalam satu ruangan, hal ini menyebabkan mahasiswi yang ingin menggunakan toilet menjadi ragu.

Ketika ditemui oleh tim dari LPM MeMi, Rakhmat Priyono selaku WD III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni mengatakan bahwa pihak fakultas tidak sepenuhnya mengetahui kondisi toilet yang ada di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis. “Kita dari fakultas tidak tahu kondisi toilet seperti bagaimana, mungkin dari pihak mahasiswa dapat memberikan saran kepada fakultas terkait masalah toilet yang ada di lingkungan FEB”, tutur Pak Rakhmat. Ketidaktahuan pihak pimpinan fakultas ini menunjukan bahwa permasalahan terkait toilet ini tidak menjadi perhatian yang serius. Padahal, fasilitas yang mumpuni sudah menjadi hak dari mahasiswa.

Sudah selayaknya sebuah perguruan tinggi memperhatikan sarana dan prasarana guna menciptakan kenyamanan untuk mahasiswa. Sah-sah saja jika fakultas ingin membangun fasilitas-fasilitas yang baru namun seharusnya tidak mengesampingkan sarana dan prasarana yang sudah ada, salah satunya toilet di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Penulis :

Bethari Sherawaly Melda

Riezky Nur Fazriecha

Khonsa Thufailla Vyanti

Editor:

Gabrielle Arthour Jonathan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *