Tersesat

Oleh : Pramesty Nilakandi Putri

Rintik hujan terdengar membasahi pusat kota. Sarah yang saat ini sedang berdiri di balkon sebuah toko roti, hanya bisa termangu saat melihat tetesan air hujan yang lama kelamaan kian deras tepat disaat waktu bekerjanya berakhir. Membuatnya teringat akan pekerjaannya yang terlihat makin menumpuk saja setiap hari dan air hujan yang seakan jatuh tiap kali dia merasa lelah, namun tentu saja Sarah tak mengeluh dengan semua itu. Dia begitu optimis bahwa suatu saat nanti hidupnya akan berubah menjadi jauh lebih baik dan usahanya selama ini tak lagi dianggap remeh oleh siapapun.
Sarah menyiapkan payung merahnya agar dapat segera pulang dengan menerobos hujan badai itu. Namun seorang wanita yang berjarak sekitar 500 meter darinya terlihat sangat gelisah. Ia terlihat sedang megacak-acak tasnya dengan wajah panik bercampur kesal dan gelisah dengan sorot mata yang selalu mencuri pandang ke arah hujan yang terlihat tak akan berhenti dalam waktu dekat. Jiwa ingin menolong Sarah tiba-tiba keluar, seketika ia tahu bahwa orang itu membutuhkan bantuan, namun tak dapat dipungkiri bahwa ada secercah rasa takut saat Sarah memutuskan untuk mendekatinya. Sarah mencoba mendekatinya dengan perasaan was-was, mengingat bahwa sekarang ini adalah zaman “edan”, dimana kejahatan dapat dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja, tanpa mengenal gender. Nafasnya makin memburu saat ia mulai mendekatinya. Sarah makin mendekat sambal memegang erat payungnya, dengan terus berpikir bagian tubuh mana yang dapat ia tusuk dengan ujung payungnya yang runcing jikalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Dan sedetik kemudian, Sarah dapat menarik nafas lega saat mengenali bahwa perempuan itu adalah Celline, teman sekantornya.

“Hai Celline.” Sapanya sambil tersenyum lebar. Sarah selalu suka menebar senyum lebar kepada orang lain. Baginya senyum adalah salah satu hal termudah yang dapat ia lakukan untuk membuat orang lain merasakan sepercik kebahagiaan darinya.
“Oh..hai Sarah. Bukankah divisimu sudah waktunya pulang bekerja dari tadi?”. Ucapnya sambil berusaha menutupi rasa gelisahnya.
“Ya, jam bekerjaku sudah usai sedari tadi. Tapi aku memutuskan untuk berteduh sebentar sebelum pulang…” Sarah tahu Celline tak mendengarkannya sedari tadi.
“Kenapa kamu begitu gelisah? Apa ada sesuatu yang terjadi?” Tanya Sarah kepada Celline yang masih sibuk mencari “sesuatu” di dalam tasnya.
“Aku minta maaf kalau tidak mendengarkanmu Sarah, aku sedang mencari payungku. Anakku, Rei, terus merengek agar aku segera menemuinya, aku harus bergegas ke rumah sakit sekarang. Tapi aku tak bisa menemukan payungku.” Ucapnya sambil mengeluarkan barang-barang yang ada di tasnya dan sesekali merutuki payungnya yang hilang. “Sial..kemana payung itu?! Aku yakin betul telah memasukkannya ke dalam tas.”
Sarah langsung teringat cerita Celline mengenai Rei yang penglihatannya mulai kabur di usianya yang baru menginjak lima tahun, dan sesekali harus menjalani perawatan di rumah sakit karena masalah pada matanya tanpa adanya kepastian mengenai donor mata yang sudah lama Celline ajukan pada pihak rumah sakit. Ia tentu tak tega membayangkan Rei harus berada di rumah sakit seorang diri mengingat Celline adalah seorang janda. “Pakai payungku saja Celline. Aku akan menunggu bus selanjutnya.”
“Apa kau yakin? Tapi bagaimana jika hujannya tak kunjung reda..”
“Jangan khawatirkan aku. Rei membutuhkanmu saat ini”
“Oh.. Sarah. Terima kasih banyak. Kau benar-benar baik hati. Aku sungguh tak tahu apa bisa mendampingi Rei tepat waktu jika kau tak datang. Aku sungguh berterima kasih padamu.” Kata Celline sambil memegangi tangan Sarah dengan penuh rasa terima kasih yang terpancar jelas dari kedua matanya.
Tak berselang lama, Celline segera berlari menembus hujan deras yang mengguyur ibukota saat ini. Sarah hanya bisa melihatnya dengan senyum lebar di bibirnya. Satu orang lagi yang dapat ia bantu hari ini. Sarah berharap dapat terus membantu orang-orang di sekitarnya.

Waktu terus berlalu, weekend yang baru dapat dikecap setelah perjuangan yang seperti puluhan abad lamanya akhirnya tiba jua. Tentu saja Sarah tak ingin menyia-nyiakan waktu berharganya. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan sambil memakai headset putih miliknya. Tak jarang Sarah melihat ke arah sepatu hak tinggi bergeriginya yang sangat ia sayangi. Ia benar-benar ingin menikmati suasana hari libur yang jarang didapatkannya. Saking seringnya melihat ke bawah, ia sampai beberapa kali menabrak orang-orang yang lewat di depannya.
 Sampai akhirnya, Sarah menatap ke arah depan dan sama sekali tak tahu dia sedang berada dimana. Ia hanya asal berjalan saja tadi dan sekarang tiba-tiba ia sudah berada di jalanan sepi dengan hutan di samping kanan dan jurang di samping kiri. Uh oh.. jalan-jalan ini tak berakhir baik. Sarah melihat kesana kemari, mendeteksi makhluk hidup yang sekiranya ada di sekitar situ. Namun satu-satunya orang yang berada di dekat situ adalah perempuan yang sekarang sedang berjongkok sambil menggeleng-gelengkan kepala, memeluk bonekanya yang telah usang sambil sesekali menggerak-gerakkan mulutnya seakan sedang berbicara dengan orang lain.
Sarah sempat ragu untuk bertanya mengenai tempat ini kepada perempuan aneh itu. Tapi tak ada jalan lain lagi karena HP Sarah tiba-tiba berkedip merah dan mati.
“Hai..”
“…” Perempuan itu tak menjawab.
“Apa kau tahu kita sedang berada dimana?”
Perempuan aneh itu memalingkan wajahnya ke samping kanan, membuat semua rambut putih keperakan miliknya terjuntai ke depan menutupi wajahnya, menghalangiku untuk melihat wajahnya.
“Ehmm.. apa kau bisa mendengarku? Aku sedang bertanya…”
“Ikut denganku jika kau mau tahu.”

Keesokan harinya, seorang wanita ditemukan tewas di dalam jurang dengan kondisi mengenaskan. Terdapat banyak bekas pukulan benda tajam memenuhi seluruh bagian tubuh wanita itu. Hanya kepala tanpa bola mata dan rambut putih keperakannya yang masih utuh sehingga korban dapat teridentifikasi.
Namun tak ditemukan jejak apapun mengenai pelaku pembunuhan wanita itu. Pelaku pembunuhan kali ini sangat rapi mengerjakan tugasnya, sampai-sampai tak ditemukan sidik jari, jejak sepatu, atau benda kecil apapun yang mungkin tertinggal di TKP. Tak seperti kasus pembunuhan yang pernah terjadi di daerah itu sebelumnya, pelaku pembunuhan ini hanya mengincar bola mata si wanita dan memukul bagian tubuh lainnya dengan benda tajam secara membabi buta.
Tak ada yang tahu bahwa di balik pepohonan, ada seorang wanita yang mengintip kejadian itu dan menyeringai senang. Ia tak tahu mangsanya ini akan begitu mudah untuk dihabisi. Apalagi saat mangsanya itu mengajaknya untuk berjalan di pinggiran jurang, membuat wanita itu makin mudah saja untuk  dibunuh.
“Dengan begini, Rei tak akan menunggu lebih lama untuk mendapatkan donor mata. Aku akan segera membuat Celline bahagia.” Ucap Sarah sambil menyeringai senang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *