Aku, Kalian, dan Cimplung

Cipratan cat, kuas yang berserakan, hamparan tembok yang hampir seperempat dari tingginya diselimuti cat berwarna putih, serta kerumunan anak kecil dan pemuda menjadi pemandangan yang saya dapati di suatu jalan kecil yang berlokasi di belakang Pasar Cilongok atau kerap disebut Lor[1] Pasar (Lopas). Pemandangan tersebut merupakan pemandangan dari acara bertajuk “Pameran Kontemporer Lan Dolanan Bocah[2]yang diadakan oleh Pemuda Lopas, pemuda yang berdomisili di bagian belakang Pasar Cilongok atau Lor Pasar pada hari Minggu, 21 Juli 2019.

Acara ini merupakan acara yang mereka inisiasi dalam rangka untuk mengapresiasi karya-karya dari para pemuda yang berdomisili di Lor Pasar dan mengajak warga agar tetap rukun dan solid.

Hari Minggu pagi ketika saya tiba di lokasi pameran, para Pemuda Lopas baru saja memulai aktifitas mencampur cat yang akan mereka gunakan untuk menghias tembok yang sebelumnya sudah mereka tutupi dengan cat warna putih. Terlihat disekitar mereka anak-anak kecil mengerumuni menantikan campuran cat itu selesai. Sembari menunggu selesainya campuran cat, saya melihat-lihat hasil karya yang dipamerkan oleh Pemuda Lopas, dari jalan masuk ke lokasi pameran di sebelah sisi kiri jalan terdapat cetakan hasil foto, di sisi kanan terdapat hasil ilustrasi. Semua hasil karya yang dipamerkan tersebut merupakan hasil karya dari Pemuda Lopas.

Tidak lama kemudian, terlihat dua sosok pemuda yang memegang gelas berisikan cat dan memulai menggoreskan kuas di salah satu tembok berwarna putih itu. Terlihat di samping mereka ada kerumunan anak yang juga ikut mulai menggambar di bagian lain sisi tembok . Sembari melihat pemuda dan anak-anak menggambar, salah seorang kawan dari Pemuda Lopas mengahampiri saya, “nanti cimplung-nya sebentar lagi dateng”. Cimplung ini merupakan salah satu dari sekian alasan saya datang pagi itu ke Lor Pasar.

Semakin siang, semakin ramai warga yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Anak-anak kecil terus berdatangan dan ikut menggambar di tembok bersama teman-temannya, para pemuda yang lebih tua ikut berkumpul bersama, juga para orang tua yang datang untuk melihat kegiatan-kegiatan yang turut meramaikan acara tersebut. Menjelang Dzuhur terlihat seorang pemuda yang semenjak pagi sudah lalu-lalang mempersiapkan acara membawa sebuah wadah berisikan cemilan sambil menawarkan kepada setiap pengunjung “cimplung mas”, sebelum pada akhirnya menaruhnya pada sebuah meja di halaman rumah yang dijadikan tempat untuk menaruh sajian.

Saya yang sedari awal penasaran dengan cimplung , langsung saja saya menghampiri meja tersebut. Sebelum mencicipinya, saya sedikit menanyakan dulu perihal apa itu cimplung kepada sang pemuda yang membawanya, “cimplung itu singkong atau ubi yang direbus menggunakan sari air nira sebelum jadi gula mas” kata si pemuda tersebut. Tanpa pikir panjang langsung saja saya ambil kertas yang disediakan sebagai tatakan untuk cimplung dan mengambil dua buah cimplung, sebuah cimplung singkong dan satunya lagi cimplung ubi. Seketika itu saja rasanya saya seperti langsung jatuh cinta kepada rasa manis dan lezatnya cimplung tersebut.

Sembari menikmati cimplung dan segelas teh hangat, saya memandangi betapa guyubnya warga Lor Pasar. Terlihat para pemuda bersenda gurau dengan orang tua, kerumunan anak kecil yang terlihat sangat antusias menggambar bersama-sama di tembok, juga keceriaan dari pemuda dan anak-anak yang memainkan permainan tradisional. Selain pameran karya serta menggambar di tembok, Pemuda Lopas juga menyediakan permainan-permainan tradisional untuk dimainkan bersama. Permainan tradisional itu berupa eggrang dan bambu yang dirakit sedemikian rupa hingga menjadi seperti senjata tembakan.

Sebelum saya beranjak pulang, acara siang itu ditutup dengan penampilan pegiat seni pantonim dari Purwokerto untuk menghibur anak-anak dengan aksinya. Terlihat betapa terhibur dan senangnya wajah anak-anak itu menonton aksi pantonim yang jenaka tersebut. Setelah penampilan pantonim tersebut, segera saja saya berpamitan dan beranjak pulang karena langit sudah terlihat mulai agak mendung dan baju yang saya jemur masih tergantung di halaman kost.

Narasi : Gabrielle Arthour Jonathan

Editor  : Mutiara Sal Sabilla



[1] Utara

[2] Dan Permainan Anak

Aksi pantonim
Cimplung Ubi dan Cimplung Singkong
hasil karya ilustrasi
Seorang pemuda menggambar ilustrasi di tembok
seorang anak terlihat asik menggambar
Hasil cetakan foto
Para pemuda hendak melakukan pencampuran cat sebelum menghias tembok
Para warga sekitar mengunjungi serta melihat-lihat pameran karya
Salah satu permainan eggrang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *