Menyapa Sistem Poin Setelah Satu Tahun Berlaku

Genap satu tahun berlalu, pemberlakuan sistem poin di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman telah berjalan. Akan tetapi, apakah tujuan tersebut sudah tercapai atau belum masih menjadi sebuah pertanyaan. Semenjak ditetapkannya sistem poin pada kegiatan pkkmb 2018, sistem ini kemungkinan akan terus berlanjut untuk mahasiswa baru angkatan berikutnya. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis menetapkan sistem ini dengan tujuan agar selama pembelajaran di kampus, mahasiswa  tidak hanya memperoleh  hard skill yang berupa pengetahuan saja, tetapi juga memperoleh soft skill yang berupa penanaman karakter. Penanaman ini diaktualisasikan dengan mengikuti organisasi baik tingkat fakultas maupun universitas. Selain itu mahasiswa dapat memperoleh poin melalui seminar dan menjadi pelaku student exchange. Teknis dari sistem ini adalah setiap mahasiswa di bebankan oleh pencapaian skor poin dimana setiap jurusan mempunyai minimal skor yang berbeda-beda. Seperti pada program D3, mahasiswa diharuskan mengumpulkan poin minimal sebanyak 70 poin, untuk jurusan program S1 Reguler skor minimal yaitu 100 poin dan untuk program internasional skor minimal yaitu 250. Poin tersebut mempunyai bobot yang berbeda sesuai dengan organisasi dan kepanitiaan yang diikuti. Poin terendah yaitu 10 poin dan yang tertinggi yaitu 100 poin. Sistem poin ini diperlukan sebagai syarat kelulusan mahasiswa khususnya angkatan 2018. Dan skor poin ini nantinya kemungkinan akan berlaku juga untuk mahasiswa baru angkatan berikutnya.

Soft skil sendiri adalah sebuah kelebihan yang dimiliki personal yang lahir dari emosional seseorang. Seperti jujur, bekerja keras, berpikir kritis dan sebagainya. Jika dikaitkan dengan sistem yang diajukan dekan, mahasiswa terkesan dipaksa untuk memperoleh poin sebanyak banyaknya daripada membentuk soft skill nya. Karena, tidak semua mahasiswa dengan senang hati mengikuti suatu acara dan organisasi dengan niat menumbuhkan soft skillnya, bisa saja mahasiswa mengikuti suatu acara dan organisai dengan niat agar mendapatkan poin semata. Mengingat jika mahasiswa mendapatkan poin dengan seminar maka akan banyak mengeluarkan uang dikarenakan lebih banyak seminar yang mengunakan karcis. Student exchange pun tidak semua mahasiswa dapat mendapatkannya dengan mudah, mungkin untuk program internasional dirasa lebih mudah dibandingkan dengan jurusan sarjana reguler dan vokasi. Karenanya banyak mahasiswa yang menganggap mengikuti organisasi dan  acara hanya sekedar mendapatkan poin saja. Imbasnya adalah mahasiswa mengikuti banyak acara  organisasi dengan tidak optimal dalam kinerjanya dan justru dapat mengganggu daripada tujuan organisasi tersebut.  Namun, cara agar mendapatkan soft skill bukan haya melalui organisasi saja. Soft skill dapat juga di temukan degan media pembelajaran di kampus, misalnya dosen lebih memperbanyakan tugas kelompok daripada individu. Ini juga dapat melatih soft skill mahasiswa seperti  bekerja sama, berani berpendapat, jujur dan peka terhadap lingkungan sekitarnya.

Terlepas dari itu semua soft skill memang diperlukan untuk mahasiswa. Hard skill tidak akan ada artinya jika seseorang tidak mempunyai soft skill. Soft skill dapat membangun kepribadian mahasiswa lebih baik lagi dan tentunya berguna bagi dirinya sediri dan bangsa. Untuk mewujudkan soft skill juga seharusnya mengunakan media yang tepat agar soft skill dapat tumbuh dalam diri mahasiswa dengan baik.

Penulis : Riezky Nur F

Editor : Redaktur Lpm Mëmi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *